Edukasi Bahaya Mikroplastik, Greenpeace Indonesia Rilis Buku Anak ‘Miko Si Monster Plastik’
Greenpeace Indonesia berkolaborasi dengan penulis dan ilustrator asal Yogyakarta, Titah AW dan Sekar Bestari, resmi meluncurkan buku cerita bergambar bertajuk “Rahasia Perjalanan Miko Si Monster Plastik”. Karya ini mengupas tuntas isu mikroplastik beserta ancamannya terhadap kehidupan sehari-hari, terutama dalam sistem rantai pangan.
Peluncuran buku tersebut dikemas dalam acara “Rantang Riang: Pantang Plastik Sekarang!” yang berlangsung di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, pada 26–27 September 2026. Acara ini berfokus pada edukasi keluarga melalui pendekatan pola asuh minim sampah serta kampanye penggunaan wadah guna ulang.
Titah AW menuturkan, proses kreatif di balik penyusunan buku ini memantik refleksi mendalam bagi dirinya dan Sekar mengenai kebiasaan konsumsi plastik sehari-hari. “Seberapa banyak sih plastik yang kita gunakan? Apa dampak jangka panjangnya dan kira-kira alternatif apa ya yang bisa kita akses untuk mengurangi plastik di hidup kita?” ujarnya.
Menurut Titah, krisis plastik rupanya merambat jauh melebihi persoalan lingkungan semata, melainkan juga menyentuh aspek kesehatan dan berbagai sendi kehidupan masyarakat. “Kami jadi sadar bahwa isu plastik itu isu yang besar sekali dan berkaitan dengan banyak hal. Mulai dari politik, kesehatan, lingkungan, hingga kesadaran sehari-hari,” katanya.
Senada dengan Titah, Sekar Bestari berharap buku ini mampu menjadi medium interaktif bagi orang tua dan anak untuk mulai mendiskusikan ancaman plastik, termasuk bahaya mikroplastik yang mengintai. “Kami berharap anak-anak bisa jadi agent of change dalam keluarga terkait habit penggunaan plastik sehari-hari. Kami percaya anak-anak tuh sebetulnya aware sekali soal lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia, Afifah Rahmi Andini, menyoroti tingginya angka produksi dan ketergantungan masyarakat pada sistem plastik sekali pakai. Menurutnya, kondisi ini berisiko besar meningkatkan paparan mikroplastik pada tubuh manusia.
“Karena ukurannya yang sangat kecil, mulai dari 5 milimeter saja, kontaminasi mikroplastik bisa terjadi kapan saja tanpa kita sadari,” tuturnya. Berangkat dari kekhawatiran itu, Afifah menekankan pentingnya transisi pola konsumsi di tingkat rumah tangga guna menciptakan kebiasaan yang lebih aman bagi kesehatan sekaligus menekan kerusakan lingkungan.

Sementara itu, Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar, menyerukan ajakan agar masyarakat kembali menghidupkan budaya penggunaan wadah guna ulang. Ia memaparkan, kebiasaan ramah lingkungan ini sejatinya telah lama mengakar dalam tradisi keluarga di Tanah Air.
Melalui kampanye ini, lanjut Ibar, Greenpeace Indonesia mendorong seluruh keluarga untuk kembali membiasakan diri membawa bekal dengan wadah seperti rantang saat bepergian. Menurutnya, langkah ini dinilai jauh lebih bijak ketimbang membeli makanan atau minuman berkemasan plastik sekali pakai.
“Sebenarnya ada banyak sekali praktik guna ulang yang sudah lama diadopsi oleh keluarga Indonesia ini, tapi kini tergerus oleh sistem ekonomi ekstraktif. Padahal, sistem ini malah mendorong konsumsi tinggi terhadap produk sekali pakai tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan jangka panjang,” katanya.
Meskipun demikian, Ibar menggarisbawahi bahwa perubahan kebiasaan masyarakat saja tidak cukup. Solusi atas persoalan krisis sampah plastik mutlak membutuhkan intervensi tegas pemerintah dan tanggung jawab nyata dari pihak korporasi, khususnya terkait pengurangan produksi kemasan plastik sekali pakai dari hulu.
“Rumah tangga yang berhasil mengelola sampahnya dengan baik harus didukung oleh regulasi yang tegas dan pengurangan produksi kemasan plastik sekali pakai dari hulu. Tanpa ketiga aspek tersebut, krisis yang timbul dari sampah plastik tidak akan selesai,” tegasnya.
Jangan Lewatkan Berita Berkualitas EPOCHSTREAM
Jadikan EPOCHSTREAM sebagai sumber berita utamamu di Google. Dapatkan berita terbaru, analisis mendalam, dan liputan terpercaya dari para jurnalis kami yang berintegritas.
Ikuti
di


Tinggalkan Komentar! Mari Berdiskusi
Belum Ada Komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini