SOSOK

Jalan Sunyi Kariadi Merawat Harmoni Tengger

Jalan Sunyi Kariadi Merawat Harmoni Tengger - EPOCHSTREAM

Hawa dingin pegunungan yang menusuk kulit tak menyurutkan langkah Kariadi. Selasa pagi di penghujung Juni lalu, Ketua Komunitas Konservasi Bala Daun itu berjalan membelah ladang-ladang masyarakat Tengger. Di belakangnya, belasan mahasiswa mengikuti. Tujuan mereka menyambangi Banyu Pampung, salah satu sumber mata air penopang kehidupan warga Dusun Wonomerto, Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Pagi itu, Kariadi tampil dengan atribut kebanggaan masyarakat Tengger. Sebuah udeng melingkar rapi di kepalanya. Sehelai sarung disampirkan menyelimuti badannya—gaya khas warga lereng Gunung Bromo. “Kami bersama mahasiswa KKN Universitas Yudharta Pasuruan mau memasang papan nama di sana,” ujarnya.

Dua kilometer dari markas Bala Daun, perjalanan itu memakan waktu sekitar 20 menit. “Bagaimana rek, masih kuat jalan?” seloroh Kariadi memecah keheningan saat rombongan istirahat sejenak. Setelah menyusuri jalan setapak yang dipayungi cemara gunung, mereka akhirnya tiba. Kariadi menghentikan langkahnya, menatap lekat sumber mata air tersebut.

Sebelum menancapkan papan nama, ia merapal doa dalam sebuah ritual singkat yang khusyuk, meminta izin kepada alam semesta dan Sang Hyang Widhi. Barulah papan penanda sumber mata air Banyu Pampung ditanam kokoh bersama para mahasiswa. “Semoga ini menjadi amal kebaikan kita bersama untuk ibu bumi,” tuturnya.

Bagi masyarakat Tengger di Dusun Wonomerto, Banyu Pampung bukan sekadar genangan air di balik perbukitan, melainkan urat nadi. Dari sanalah air mengalir membasahi kebun-kebun sayur warga, upacara keagamaan dan adat, hingga memenuhi kebutuhan dapur. “Makanya, kami sangat menjaga sumber mata air ini,” ujarnya.

Kariadi lantas bercerita, sumber-sumber mata air di Desa Tosari dulu tak sederas saat ini. Pada era 90-an, banyak belik (sumber air kecil) di desa penyangga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini debitnya mengecil, perlahan mengering, hingga akhirnya mati. Salah satunya sumber air yang tak jauh dari Banyu Pampung.

Bencana ekologis ini bukanlah tanpa sebab. Matinya sumber-sumber air itu adalah residu dari Revolusi Hijau era Orde Baru. Pada dekade 70 hingga 80-an, pemerintah menggenjot program Bimbingan Massal (Bimas) dan Panca Usaha Tani demi mencapai swasembada pangan. Targetnya tak hanya dataran rendah, kawasan Tengger ikut disentuh.

Eksploitasi lahan besar-besaran tak terelakkan. Tutupan hutan yang menjaga ketersediaan air tanah mulai terkikis, berganti hamparan pertanian modern. Nilai-nilai bertani tradisional pun ikut tergerus. “Dulunya kami tidak tanam kentang, karena ada program ketahanan pangan saat Orde Baru, akhirnya oleh pemerintah dipaksa tanam kentang,” ungkapnya.

Secara ekonomi, Kariadi tak menampik bahwa Revolusi Hijau menggemukkan kantong para petani. Hasil produksi sayur-mayur meningkat. Sayangnya, kemakmuran itu harus dibayar mahal dengan rusaknya keseimbangan alam Tosari. Pohon-pohon penahan air raib, tebing-tebing rapuh, dan kerap longsor. Puncaknya, urat-urat air tanah perlahan mati.

Hatinya bergejolak melihat alih fungsi lahan di tanah kelahirannya. Berbekal keresahan itu, inisiatif untuk menghijaukan kembali kawasan Tosari mulai tumbuh. Di sela-sela bertani, sejak tahun 1998, Kariadi mulai menanam pohon di ladang dan sekitar rumahnya. “Saat itu, saya masih gerak sendiri, hanya bersama keluarga,” ujarnya.

Wasiat di Balik Nama Bala Daun

Perjuangan Kariadi menghijaukan kawasan Tosari tak mudah. Ia kerap mendapat penolakan karena warga khawatir pohon yang ditanamnya akan merusak lahan dan sayur mereka. Ia menyadari hal itu terjadi karena kesadaran masyarakat terhadap lingkungan kala itu masih minim. “Di sini dulu gundul banget, masyarakat tidak peduli lingkungan,” kenangnya.

Ia juga memaklumi kondisi geografis dan ekonomi masyarakat sudah banyak berubah pasca-Revolusi Hijau. Desa Tosari memang berada di luar kawasan TNBTS. Tidak ada aturan konservasi ketat yang mengikat. Di sisi lain, masyarakat juga sudah sangat bergantung pada hasil pertanian komersial, terutama kentang dan kubis.

Kendati sendirian, Kariadi terus bergerak. Lambat laun, ia menemukan teman yang sejalan untuk menghijaukan Tosari. “Namanya Bu Lilis Kartika. Rumahnya tidak jauh dari sini. Masih tetangga saya,” ungkapnya. Bersama istri, anak, serta sahabatnya tersebut, ia pun semakin gencar melakukan penanaman di sejumlah kawasan Tosari yang gundul.

Gerakan konservasi mereka semakin kuat dengan hadirnya komunitas lingkungan bernama Sebumi pada tahun 2012. Ia membangun wadah kecil tersebut bersama Lilis karena memiliki keresahan yang sama. “Kami resah melihat banyak alih fungsi lahan. Masyarakat Tengger sendiri sudah tidak lagi peduli dengan lingkungannya,” kata Kariadi.

Sayang, perjuangan Kariadi melestarikan alam bersama sahabatnya tak berumur panjang. Lilis tutup usia karena leukemia pada akhir tahun 2013. “Dari situ, saya gak punya teman lagi yang sefrekuensi dalam gerakan lingkungan,” ujarnya. Kehilangan teman seperjuangan membuat Kariadi sempat ingin berhenti. Namun, ia teringat pesan mendiang.

“Kegiatan ini jangan sampai ditinggalkan ya, Pak Kariadi. Karena ini penting. Ini ibadah yang tulus. Kalau tubuh saya tidak kuat, saya ikut menyertai di tumbuh-tumbuhan yang kita tanam,” cerita Kariadi menirukan pesan Lilis. Ia ingat betul, wasiat itu disampaikan dua hari sebelum sahabatnya meninggal. “Di rumah sakit, ngomong seperti itu ke saya.”

Amanat itulah yang menguatkan langkah Kariadi. Meski sahabatnya telah tiada, ia bersama keluarga kecilnya terus melanjutkan penghijauan. Pohon-pohon yang mereka tanam saat itu berasal dari bibit yang dibudidayakan Kariadi sendiri. “Lokasi menanamnya di daerah sini saja. Pinggir jalan. Sumber mata air. Tapi, belum banyak waktu itu,” ujarnya.

Setahun kemudian, tepat pada 5 November 2014, nama Sebumi diubah menjadi Bala Daun. Kariadi menjelaskan, ada makna mendalam di balik pergantian nama tersebut. Kata Bala diambil dari bahasa Tengger yang berarti teman, sekumpulan orang, atau kelompok. Sementara Daun diambil dari bahasa umum yang bermakna tumbuh-tumbuhan.

“Nama Bala Daun ini tercipta karena teman saya. Dan untuk mengenang dedikasinya, saya umpamakan beliau itu berada di tumbuh-tumbuhan yang kami tanam,” jelasnya. Lewat nama dan semangat baru ini, Kariadi juga menaruh harapan semakin banyak masyarakat Tengger di desanya yang tersadar akan pentingnya menjaga lingkungan.

Sejak saat itu, beberapa pemuda di desanya tergerak untuk mengikuti jejak konservasinya. “Ada tiga pemuda yang ikut membantu saya,” ungkapnya. Untuk kegiatan sehari-hari, Kariadi menjadikan rumahnya sebagai markas. “Awalnya, jika kita kumpul atau diskusi itu di belakang rumah. Kemudian, kita pindah ke depan rumah.”

Merawat Alam Lewat Tradisi

Pasca-berdirinya Bala Daun, gerakan konservasi Kariadi tak lantas berjalan mulus. Penolakan masih sering terjadi. Kariadi pun memutar otak mencari cara yang pas. Sembari bertani, ia menggali lebih dalam ilmu konservasi serta adat dan budaya Tengger. “Saya belajar ke Romo Dukun (Dukun Pandita, red) serta baca buku-buku dan penelitian,” ungkapnya.

Dari proses itulah, ia menemukan tradisi bernama Titi Luri, sebuah kebiasaan masyarakat Tengger untuk mengikuti dan mengamalkan ajaran leluhur dari waktu ke waktu. Dari warisan budaya tersebut, ia mengenal lebih dalam soal tiga ajaran pokok yang menjadi dasar utama kehidupan masyarakat Hindu di Tengger, yakni filosofi Tri Hita Karana.

Filosofi Tri Hita Karana, menurut penuturan Kariadi, mengajarkan tiga harmoni utama. Pertama, Parahyangan (hubungan manusia dengan Tuhan). Kedua, Pawongan (hubungan dengan sesama manusia). Ketiga, Palemahan (hubungan manusia dengan alam). Filosofi itulah yang akhirnya menjadi senjata Kariadi untuk kampanye pelestarian alam.

Kehidupan masyarakat Tengger memang tak pernah lepas dari ritual yang bertautan erat dengan alam. Mulai dari upacara penolak bala seperti Bari’an yang dilakukan setiap bulan, perayaan tahunan seperti Yadya Kasada dan Hari Raya Karo, hingga Unan-unan yang digelar lima tahun sekali.

Bahkan, siklus hidup manusia dari lahir hingga mati pun memiliki ritualnya tersendiri. Ada Among-among untuk bayi lahir, Walagara saat menikah, hingga Entas-entas untuk yang meninggal. Belum lagi upacara agraris penyambung napas petani seperti Leliwet dan Wiwitan yang menjadi wujud syukur kepada bumi pertiwi.

Menurutnya, semua upacara tersebut ternyata merujuk ke masalah lingkungan. Setiap kali upacara, ungkap Kariadi, japa mantra yang diucapkan pasti menyebut unsur bumi, langit, air, udara, dan api. Termasuk tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai peralatan upacara. “Ada pisang, gedang ayu, edelweis, pohon pampung. Itu kan konservasi,” ujarnya.

Sayangnya, ia mengamati upacara yang dilakukan selama ini hanya sekadar seremonial, praktiknya tidak ada. Berangkat dari itulah, mulai tahun 2017, Kariadi mengubah strateginya. Kampanyenya tak lagi sebatas imbauan secara lisan. Setiap kali ada upacara, ia selalu datang dengan membawa bibit-bibit pohon untuk ditanam.

Dengan menggandeng tokoh adat dan agama, Kariadi menyosialisasikan agar setiap upacara diiringi menanam pohon. Ia memberi pemahaman logis: ketika tumbuh-tumbuhan habis, suatu saat upacara adat pasti akan mandek. Maka dari itu, keragaman hayati harus dijaga agar tradisi tidak hilang. “Konservasi sejatinya kan seperti itu,” tegasnya.

Dedikasi Kariadi bahkan melampaui batas agama. Ia bercerita, suatu ketika pernah menanam pohon sendirian tepat di Hari Raya Idul Fitri. Dengan membawa cangkul, ia menanam pohon di halaman depan masjid saat masyarakat muslim akan menunaikan Shalat Ied. “Tujuan saya satu, semua masyarakat sadar pentingnya pohon,” tuturnya.

Setelah tiga tahun lamanya melakukan pendekatan kultural tersebut, barulah hati masyarakat perlahan luluh. “Akhirnya gerakan Bala Daun diterima. Kesadaran masyarakat juga mulai tumbuh,” kenang Kariadi. Kini, masyarakat tidak lagi menolak ladangnya ditanami pohon, bahkan tak sedikit yang berinisiatif menanamnya sendiri.

Ladang Pertanian di Desa Tosari Pasuruan - EPOCHSTREAM
Pohon cemara gunung menghiasi ladang pertanian masyarakat Tengger di Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan. Foto: Aris Badar/EPOCHSTREAM

Harmoni Ekologi dan Ekonomi

Konservasi dengan pendekatan budaya lewat upacara adat dan keagamaan memang ampuh. Namun, Kariadi sadar bahwa urusan perut petani tak bisa diabaikan. Konservasi tidak akan berjalan jika mengorbankan ekonomi masyarakat. Baginya, konsep pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat Tengger harus saling menopang.

Oleh karena itu, untuk lahan pertanian warga, ia memilih pohon cemara gunung. “Petani di sini lebih suka cemara gunung. Kalau daunnya rimbun, bisa dirampas (dipangkas) supaya tidak mengganggu sinar matahari ke tanaman,” jelasnya. Pohon ini juga dipilih karena akarnya kuat mencengkeram tanah dan mencegah longsor di ladang pertanian.

Selain urusan ekonomi, tantangan konservasi di kawasan Tosari juga berbenturan dengan kebutuhan domestik masyarakat. Suhu dingin di Tengger memaksa masyarakat harus memiliki tungku perapian di rumahnya untuk menghangatkan badan. Artinya, kebutuhan akan kayu bakar tidak bisa dihentikan karena sudah menjadi kultur.

Kariadi tidak menentang tradisi itu. Ia justru mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga “siklus”. “Kultur perapian itu harus ada. Otomatis siklusnya harus berjalan normal. Dulu pohon hanya ditebang tapi tidak ditanam. Sekarang, sebelum menebang, warga sudah menghitung kebutuhannya dan menanam pohon pengganti jauh-jauh hari,” terangnya.

Seiring waktu, gerakan konservasi Bala Daun semakin besar. Kariadi menilai rumahnya sudah tak cukup untuk menopang keberlanjutan gerakan. Namun, karena tak memiliki biaya besar, ia menyulap lahan miliknya menjadi markas. “Saya jadikan markas ini untuk kami melakukan kegiatan konservasi hingga menerima tamu,” ungkapnya.

Kehadiran markas ini lebih dari sekadar pusat komando pelestarian, melainkan ruang hidup bagi masyarakat. Kariadi membebaskan anak-anak desa memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan, mulai dari belajar tari hingga perayaan kelulusan sekolah. Tentu saja, di setiap kesempatan itu ia selalu menyelipkan edukasi seperti praktik pembibitan pohon.

Perlahan, markas Bala Daun berevolusi menjadi pusat pengarsipan budaya Tengger dan wisata edukasi. Berbagai aktivitas seperti pengenalan flora khas kawasan Bromo, praktik pertanian ramah lingkungan, hingga diskusi isu ekologis rutin digelar di sana guna merawat kesadaran dari generasi ke generasi.

Dari rumah konservasi itu pula, Kariadi terus berinovasi. Ia membawa masuk teknologi pemetaan lewat sistem barcode (kode batang). Setiap pohon yang ditanam diberi label berupa barcode yang memuat informasi jenis pohon, tanggal penanaman, lokasi tanam, serta pihak yang terlibat. “Cukup di-scan lewat hp, kita bisa tahu siapa yang menanam. Terus, bagaimana perkembangannya,” ujarnya.

Kariadi menjelaskan, penerapan barcode pohon tersebut merupakan pendekatan edukatif yang sederhana namun efektif. Dengan adanya identitas setiap pohon, ia menekankan agar setiap orang yang menanam tidak berhenti di aktivitas seremonial saja, melainkan berlanjut hingga upaya perawatan dan pemantauan jangka panjang.

Barcode Pohon - Komunitas Bala Daun Tosari Pasuruan - EPOCHSTREAM
Salah satu pohon cemara gunung di markas Bala Daun yang ada barcode-nya. Foto: Aris Badar/EPOCHSTREAM

Keberhasilan gerakan konservasi dengan pendekatan budaya ini perlahan membuka pintu dukungan yang lebih luas. Gerakan konservasi Kariadi mulai dilirik pihak luar. Sejak tahun 2018, program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan swasta hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai masuk ke Bala Daun.

Bekerja sama dengan salah satu perusahaan, Bala Daun juga menginisiasi program ‘jasa lingkungan’. Melalui skema ini, setiap masyarakat yang merawat pohon akan mendapat apresiasi ekonomi dari Bala Daun. “Jadi, orang yang merawat pohon, kita data. Kita hargai Rp15 ribu jika pohon yang ditanamnya mencapai diameter 10,” ungkapnya.

Selain mengajak warga, ia juga telah membuktikan pentingnya menjaga kelestarian alam lewat tindakan nyata. Ia rela tidak menanami lahan seluas 1,5 hektare miliknya dengan sayuran, dan mengubahnya menjadi lahan konservasi. “Saya tanami dengan pohon seperti cemara gunung, kesek, pampung, dan tunjung tutup,” jelasnya.

Keputusan itu diambil Kariadi karena ada sumber mata air tepat di bawah ladangnya yang mati sejak awal era 2000-an. Padahal, jika lahan tersebut tetap ditanami sayuran, ia bisa saja meraup keuntungan besar. “Sekali panen, hasil yang saya dapatkan bisa berton-ton. Soalnya, kentang yang saya tanam besar-besar,” ujarnya.

Pengorbanan Kariadi akhirnya dibayar lunas oleh alam. Sumber mata air tersebut bisa menetes kembali sekitar tahun 2020-an. Meski debitnya masih kecil, menurut Kariadi, airnya cukup untuk kebutuhan dasar masyarakat sekitar. “Sekarang airnya bisa digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.

Perjuangan panjangnya sejak tahun 1998 kini berbuah manis. Desanya tak hanya menjadi lebih hijau dan bersih, tetapi juga mendatangkan pundi-pundi ekonomi dari terjaganya kelestarian alam. Namun, bagi Kariadi, hadiah terbesar dari seluruh jerih payahnya adalah kembalinya urat nadi kehidupan masyarakat Tengger di Tosari.

Ketua Komunitas Bala Daun Kariadi saat Berada di Sumber Mata Air Banyu Pampun - EPOCHSTREAM
Kariadi, Ketua Komunitas Konservasi Bala Daun, menunjukkan sumber mata air Banyu Pampung yang menjadi penopang masyarakat Tengger di Desa Tosari, Kabupaten Pasuran. Foto: Aris Badar/EPOCHSTREAM

***

Karya jurnalistik mendapat dukungan dari Indonesian Data Journalism Network (IDJN) lewat program beasiswa liputan bertajuk “Data Journalism Hackathon 2026”.

Aris Badar

Aris Badar adalah jurnalis EPOCHSTREAM yang sebelumnya meniti karier di Jawa Pos Radar Malang, tagar.id, hingga ngopibareng.id. Ia memiliki rekam jejak prestasi sebagai penerima beasiswa Data Journalism Grants AJI (2022) serta Juara Kedua kompetisi Indonesia Fact Check 3 MAFINDO (2022).

Jangan Lewatkan Berita Berkualitas EPOCHSTREAM

Jadikan EPOCHSTREAM sebagai sumber berita utamamu di Google. Dapatkan berita terbaru, analisis mendalam, dan liputan terpercaya dari para jurnalis kami yang berintegritas.

Ikutidi

Tinggalkan Komentar! Mari Berdiskusi

1000 karakter tersisa

Catatan:
Dengan berkomentar, Anda memberikan persetujuan kepada EPOCHSTREAM untuk mengelola data Anda secara aman. Kami menjamin kerahasiaan data Anda dan tidak menjualnya kepada pihak manapun. Mohon berkomentar dengan bijak, karena setiap komentar yang mengandung unsur pelanggaran hukum akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Selengkapnya, baca Kebijakan Privasi dan Ketentuan Layanan kami.

Belum Ada Komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini